FROM EQUAL ACCESS TO MEANINGFUL OPPORTUNITIES

Pembangunan berkelanjutan menempatkan prinsip no one left behind sebagai bagian penting dalam mewujudkan masyarakat yang inklusif. Hal ini sejalan dengan SDGs 3 (Good Health and Well-being), SDGs 8 (Decent Work and Economic Growth), SDG 10 (Reduced Inequalities), dan SDGs 17 (Partnerships for the Goals) yang mendorong peningkatan kesejahteraan, kesempatan ekonomi, pengurangan kesenjangan, serta kolaborasi dalam pembangunan. Dalam konteks penyandang disabilitas, prinsip tersebut berarti memastikan tersedianya akses terhadap layanan kesehatan, kesempatan untuk mengembangkan potensi, serta ruang untuk berpartisipasi secara sosial dan ekonomi. Namun, berbagai tantangan masih dihadapi penyandang disabilitas, termasuk dalam memperoleh layanan dan kesempatan kerja yang setara. Kondisi ini menunjukkan bahwa upaya mewujudkan inklusi perlu diarahkan tidak hanya pada pemenuhan kebutuhan, tetapi juga pada penguatan kapasitas dan kemandirian.Persoalan tersebut juga memiliki relevansi kuat di tingkat daerah.

Di Kabupaten Sukoharjo tercatat 5.510 penyandang disabilitas, dengan 583 orang berada di Kecamatan Nguter. Angka tersebut menunjukkan bahwa isu disabilitas merupakan bagian nyata dari pembangunan masyarakat di tingkat lokal. Namun, kebutuhan penyandang disabilitas tidak bersifat seragam. Anak penyandang disabilitas membutuhkan dukungan untuk tumbuh kembang dan kemampuan fungsional, sementara difabel dewasa membutuhkan kesempatan untuk mengembangkan keterampilan produktif. Di sisi lain, keluarga yang mendampingi juga menghadapi tantangan dalam menjalankan pengasuhan sekaligus menjaga ketahanan ekonomi keluarga. Karena itu, pemberdayaan perlu diawali dengan pemahaman terhadap kebutuhan nyata penerima manfaat agar intervensi yang diberikan dapat tepat sasaran.

Berangkat dari kebutuhan tersebut, Program Shelter Inklusi bagi Difabel dan Pemberdayaan Keluarga Difabel di Sanggar Inklusi Tunas Bangsa, Nguter, dikembangkan melalui pendekatan yang menggabungkan aspek kesehatan dan pemberdayaan ekonomi. Program memberikan layanan fisioterapi bagi anak penyandang disabilitas serta pelatihan pembuatan sabun cuci piring, digital marketing, batik cap, dan batik ciprat bagi keluarga dan difabel dewasa. Melalui pendekatan ini, program tidak hanya memberikan layanan, tetapi berupaya membangun kapasitas, membuka peluang produktif, dan memperkuat kemandirian penerima manfaat. Dengan 118 penerima manfaat langsung, program ini menjadi salah satu bentuk penerjemahan prinsip inklusi dan SDGs ke dalam aksi nyata di tingkat komunitas.

Pos Sebelumnya

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Contact Info

© 2026 Syntesa Data | Built by binnogi.id